Mengenal Itu DOI dan ISSN serta Perbedaannya

DOI dan ISSN sama-sama berupa nomor identitas, sering muncul berdampingan di halaman depan sebuah jurnal, dan karena itu sering dianggap dua hal yang sejenis. Padahal keduanya menandai objek yang berbeda.

ISSN menandai jurnalnya. DOI menandai artikelnya. Perbedaan sesederhana itu, tapi implikasinya cukup luas, terutama sejak keduanya menjadi syarat yang harus dipenuhi sebuah jurnal untuk bisa diakreditasi.

Perbedaan Pokoknya Berdampingan

ISSN Menandai Jurnalnya
  • Melekat pada terbitan berkala, bukan pada artikel
  • Satu jurnal punya nomor yang tetap sepanjang usianya
  • Terdiri atas delapan digit
  • Versi cetak dan versi elektronik punya nomor sendiri-sendiri
  • Di Indonesia diterbitkan oleh Pusat Nasional ISSN Indonesia di bawah BRIN
DOI Menandai Artikelnya
  • Melekat pada satu artikel atau satu objek digital tertentu
  • Setiap artikel punya nomor yang berbeda
  • Terdiri atas awalan penerbit dan akhiran yang ditentukan penerbit
  • Berfungsi sebagai tautan permanen yang mengarah ke lokasi artikel
  • Didaftarkan penerbit melalui badan registrasi, umumnya Crossref untuk jurnal

Cara paling gampang mengingatnya: kalau kamu berpindah dari satu artikel ke artikel lain di jurnal yang sama, nomor ISSN-nya tidak berubah sementara DOI-nya berganti.

Mengenal ISSN Lebih Dekat

ISSN adalah nomor delapan digit yang membedakan satu terbitan berkala dari terbitan lainnya. Fungsinya adalah pencatatan dan pembedaan, terutama karena nama jurnal antar penerbit sering nyaris identik.

Sebuah jurnal yang terbit dalam dua bentuk memiliki dua nomor. Versi cetaknya memakai p-ISSN dan versi elektroniknya memakai e-ISSN. Keduanya sah dan merujuk pada jurnal yang sama, tetapi tidak bisa saling menggantikan saat mengisi berkas.

📍 Di Indonesia, ISSN diterbitkan oleh BRIN, bukan lagi oleh LIPI. Layanan ini dijalankan Pusat Nasional ISSN Indonesia di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional, dengan pengajuan dilakukan secara daring melalui portal ISSN BRIN. Cukup banyak panduan lama yang masih menyebut PDII LIPI sebagai penerbitnya, dan informasi itu sudah tidak berlaku.

Mengenal DOI Lebih Dekat

DOI adalah pengenal objek digital yang melekat secara permanen pada satu artikel. Bentuknya terdiri atas dua bagian, yaitu awalan yang menandai penerbit dan akhiran yang ditentukan sendiri oleh penerbit untuk membedakan tiap artikelnya.

Yang membuat DOI berguna bukan angkanya, melainkan sifatnya sebagai tautan permanen. Kalau sebuah jurnal berpindah alamat situs atau menata ulang penomoran halamannya, tautan biasa akan mati sementara DOI tetap mengarah ke tempat yang benar karena penerbit memperbarui datanya di badan registrasi.

Inilah alasan mengapa DOI selalu dicantumkan dalam daftar pustaka pada banyak gaya sitasi. Rujukan yang memakai DOI tetap bisa ditelusuri bertahun-tahun kemudian, sementara rujukan yang hanya memakai tautan biasa sering berujung pada halaman yang sudah tidak ada.

Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4

Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨

Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.

Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:

🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus

Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:

Fast Track
Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak
🌐 Peer Review 5 Negara
Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara
📝 Proofread dan Template
Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal
📋 Mendeley dan Turnitin Check
Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman

Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.

Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.

Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇

Daftar Pendampingan Publikasi Sekarang

Keduanya Kini Menjadi Syarat Akreditasi

Bagian ini yang membuat pembahasan DOI dan ISSN naik kelas dari sekadar urusan teknis. Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah pada Pasal 4 ayat 2 huruf h mensyaratkan jurnal memiliki nomor seri standar internasional secara elektronik dan pengenal objek digital agar dapat diakreditasi.

Artinya keduanya bukan pelengkap yang bersifat pilihan, melainkan syarat masuk. Sebuah jurnal nasional yang tidak memiliki e-ISSN dan DOI secara jelas tidak akan sampai ke tahap penilaian mutu, berapa pun bagusnya artikel yang diterbitkan.

Bagi penulis, ini memberi alat saring yang cepat. Kalau sebuah jurnal nasional mengaku sedang mengurus akreditasi tetapi artikel-artikelnya tidak punya DOI, klaim itu perlu ditanyakan lebih lanjut.

Cara Memeriksa Keduanya Sendiri

Seluruh langkah berikut gratis dan biasanya selesai dalam beberapa menit.

1
Cocokkan ISSN di pangkalan internasional
Buka portal ISSN lalu masukkan nomornya. Judul yang muncul harus persis sama dengan nama jurnal yang kamu buka. Selisih kecil pada judul adalah tanda situs tiruan.
2
Bedakan p-ISSN dan e-ISSN yang tercantum
Jurnal yang terbit dalam dua bentuk punya dua nomor berbeda. Keduanya sah, tetapi mencampuradukkannya saat mengisi berkas administratif sering menimbulkan masalah di kemudian hari.
3
Ambil satu DOI artikel lalu buka
Salin DOI dari salah satu artikel yang sudah terbit dan bukalah lewat penyelesai resmi di doi.org. Tautan itu harus mendarat tepat di laman artikel yang bersangkutan.
4
Perhatikan apakah semua artikel punya DOI
Jurnal yang hanya memberi DOI pada sebagian artikel menunjukkan pengelolaan metadata yang tidak konsisten, dan ini termasuk hal yang diperiksa saat akreditasi.
5
Periksa keberadaan metadatanya di badan registrasi
DOI yang sah terdaftar beserta metadatanya di badan registrasi seperti Crossref. Nomor yang tampak seperti DOI namun tidak terdaftar di manapun tidak punya arti apa pun.

Empat Salah Kaprah yang Umum

1
Mengira DOI Adalah Tanda Jurnal Bermutu
DOI adalah infrastruktur penomoran, bukan penilaian mutu. Penerbit mana pun yang mendaftar ke badan registrasi dan membayar biayanya bisa menerbitkan DOI, termasuk penerbit yang bermasalah.
2
Mengira ISSN Diberikan Setelah Ada Penilaian
Penerbitan ISSN adalah proses pencatatan terbitan berkala, bukan akreditasi. Nomor ini menyatakan bahwa terbitanmu tercatat, bukan bahwa terbitanmu bermutu.
3
Menyalin Nomor DOI Tanpa Memeriksanya
Sebagian situs mencantumkan deretan angka berformat mirip DOI yang sebenarnya tidak terdaftar di manapun. Cara termudah memeriksanya adalah dengan membukanya dan melihat apakah mengarah ke tempat yang benar.
4
Mengira Satu Jurnal Cukup Punya Satu Nomor Saja
Jurnal yang terbit dalam bentuk cetak dan elektronik memiliki dua ISSN yang berbeda. Menuliskan nomor yang keliru pada berkas usulan bisa memperlambat proses verifikasi.

Benang merah dari keempatnya sama: DOI dan ISSN adalah infrastruktur identitas, bukan penilaian mutu. Keduanya membantumu memverifikasi bahwa sesuatu benar-benar ada dan bisa ditelusuri, tetapi tidak menyatakan apa pun tentang kualitas telaah sejawat di baliknya. Bagaimana penilaian mutu itu sendiri bekerja dibahas dalam pembahasan tentang indeksasi dan reputasi jurnal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah penulis perlu mengurus DOI untuk artikelnya sendiri?
Tidak. Pendaftaran DOI dilakukan oleh penerbit jurnal melalui badan registrasi, bukan oleh penulis. Kalau ada pihak yang menawarkan jasa pembuatan DOI untuk artikelmu secara terpisah, tawaran itu perlu dipertanyakan.
Apakah ISSN berlaku selamanya?
Nomornya melekat pada terbitan tersebut selama identitasnya tidak berubah. Perubahan besar seperti pergantian judul jurnal umumnya menuntut pengajuan nomor baru karena dianggap sebagai terbitan yang berbeda.
Kenapa DOI artikel saya tidak bisa dibuka?
Penyebab paling umum adalah metadata yang belum didaftarkan atau belum diperbarui oleh penerbit setelah artikel terbit. Laporkan ke pengelola jurnal, karena hanya penerbit yang bisa memperbaikinya.
Apakah jurnal internasional juga wajib punya ISSN?
Kepemilikan ISSN termasuk salah satu kriteria yang diperiksa dalam penilaian jurnal internasional untuk keperluan karier akademik, di samping kriteria lain seperti bahasa artikel dan sebaran negara dewan editornya.
Apa bedanya DOI dengan tautan biasa ke artikel?
Tautan biasa menunjuk ke alamat tempat artikel disimpan saat ini, sehingga bisa mati kalau situsnya berubah. DOI menunjuk ke catatan yang dikelola badan registrasi, dan penerbit memperbarui catatan itu ketika alamatnya berpindah.

Penutup

ISSN menandai jurnalnya dan tetap sama sepanjang usia terbitan tersebut, sementara DOI menandai tiap artikel secara terpisah dan berfungsi sebagai tautan permanen. Di Indonesia, ISSN sekarang diterbitkan oleh Pusat Nasional ISSN Indonesia di bawah BRIN.

Sejak aturan akreditasi yang berlaku menempatkan e-ISSN dan DOI sebagai syarat, keduanya berguna sebagai alat saring cepat bagi penulis. Jurnal nasional yang artikelnya tidak punya DOI adalah jurnal yang perlu kamu tanyakan lebih dulu sebelum mengirim naskah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

CV INTERNATIONAL JOURNAL LABS Partner yang siap melayani setiap saat untuk mensukseskan karir anda.