DOI dan ISSN sama-sama berupa nomor identitas, sering muncul berdampingan di halaman depan sebuah jurnal, dan karena itu sering dianggap dua hal yang sejenis. Padahal keduanya menandai objek yang berbeda.
ISSN menandai jurnalnya. DOI menandai artikelnya. Perbedaan sesederhana itu, tapi implikasinya cukup luas, terutama sejak keduanya menjadi syarat yang harus dipenuhi sebuah jurnal untuk bisa diakreditasi.
Table of Contents
ToggleCara paling gampang mengingatnya: kalau kamu berpindah dari satu artikel ke artikel lain di jurnal yang sama, nomor ISSN-nya tidak berubah sementara DOI-nya berganti.
ISSN adalah nomor delapan digit yang membedakan satu terbitan berkala dari terbitan lainnya. Fungsinya adalah pencatatan dan pembedaan, terutama karena nama jurnal antar penerbit sering nyaris identik.
Sebuah jurnal yang terbit dalam dua bentuk memiliki dua nomor. Versi cetaknya memakai p-ISSN dan versi elektroniknya memakai e-ISSN. Keduanya sah dan merujuk pada jurnal yang sama, tetapi tidak bisa saling menggantikan saat mengisi berkas.
DOI adalah pengenal objek digital yang melekat secara permanen pada satu artikel. Bentuknya terdiri atas dua bagian, yaitu awalan yang menandai penerbit dan akhiran yang ditentukan sendiri oleh penerbit untuk membedakan tiap artikelnya.
Yang membuat DOI berguna bukan angkanya, melainkan sifatnya sebagai tautan permanen. Kalau sebuah jurnal berpindah alamat situs atau menata ulang penomoran halamannya, tautan biasa akan mati sementara DOI tetap mengarah ke tempat yang benar karena penerbit memperbarui datanya di badan registrasi.
Inilah alasan mengapa DOI selalu dicantumkan dalam daftar pustaka pada banyak gaya sitasi. Rujukan yang memakai DOI tetap bisa ditelusuri bertahun-tahun kemudian, sementara rujukan yang hanya memakai tautan biasa sering berujung pada halaman yang sudah tidak ada.
Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨
Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.
Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:
🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus
Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:
| ⚡ Fast Track Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak |
🌐 Peer Review 5 Negara Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara |
| 📝 Proofread dan Template Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal |
📋 Mendeley dan Turnitin Check Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman |
Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.
Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.
Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇
Bagian ini yang membuat pembahasan DOI dan ISSN naik kelas dari sekadar urusan teknis. Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah pada Pasal 4 ayat 2 huruf h mensyaratkan jurnal memiliki nomor seri standar internasional secara elektronik dan pengenal objek digital agar dapat diakreditasi.
Artinya keduanya bukan pelengkap yang bersifat pilihan, melainkan syarat masuk. Sebuah jurnal nasional yang tidak memiliki e-ISSN dan DOI secara jelas tidak akan sampai ke tahap penilaian mutu, berapa pun bagusnya artikel yang diterbitkan.
Bagi penulis, ini memberi alat saring yang cepat. Kalau sebuah jurnal nasional mengaku sedang mengurus akreditasi tetapi artikel-artikelnya tidak punya DOI, klaim itu perlu ditanyakan lebih lanjut.
Seluruh langkah berikut gratis dan biasanya selesai dalam beberapa menit.
Benang merah dari keempatnya sama: DOI dan ISSN adalah infrastruktur identitas, bukan penilaian mutu. Keduanya membantumu memverifikasi bahwa sesuatu benar-benar ada dan bisa ditelusuri, tetapi tidak menyatakan apa pun tentang kualitas telaah sejawat di baliknya. Bagaimana penilaian mutu itu sendiri bekerja dibahas dalam pembahasan tentang indeksasi dan reputasi jurnal.
ISSN menandai jurnalnya dan tetap sama sepanjang usia terbitan tersebut, sementara DOI menandai tiap artikel secara terpisah dan berfungsi sebagai tautan permanen. Di Indonesia, ISSN sekarang diterbitkan oleh Pusat Nasional ISSN Indonesia di bawah BRIN.
Sejak aturan akreditasi yang berlaku menempatkan e-ISSN dan DOI sebagai syarat, keduanya berguna sebagai alat saring cepat bagi penulis. Jurnal nasional yang artikelnya tidak punya DOI adalah jurnal yang perlu kamu tanyakan lebih dulu sebelum mengirim naskah.