Mengenal Impact Factor, SJR, dan H-Index

Impact Factor, SJR, dan H-Index hampir selalu disebut dalam satu tarikan napas, seolah tiga varian dari hal yang sama. Padahal ketiganya berasal dari sumber data yang berbeda, dihitung dengan cara yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang berbeda pula.

Memahami perbedaan itu bukan sekadar urusan ketelitian istilah. Salah membaca metrik bisa membuatmu memilih jurnal yang keliru, atau justru melewatkan jurnal yang sebenarnya sangat sesuai dengan bidangmu.

Asal-usul Ketiganya dalam Satu Tabel

Metrik Sumber Data Menjawab Pertanyaan
Impact Factor Clarivate, lewat Journal Citation Reports Rata-rata berapa kali artikel jurnal ini disitasi belakangan
SJR SCImago, mengolah data Scopus Seberapa berbobot pihak-pihak yang menyitasi jurnal ini
H-Index Bisa dihitung dari berbagai basis data Seberapa konsisten karya yang dihasilkan mendapat sitasi
Kuartil Turunan dari metrik pengurut di atas Di posisi mana jurnal ini berada dalam kategorinya

Perhatikan kolom paling kanan. Ketiganya sama-sama berbasis sitasi, tetapi masing-masing menyoroti sisi yang berbeda dari fenomena yang sama.

Membaca Ketiganya Satu per Satu

Impact Factor

Metrik ini dikelola Clarivate dan diterbitkan melalui Journal Citation Reports. Perhitungannya berbasis rata-rata sitasi yang diterima artikel sebuah jurnal dalam rentang waktu yang relatif pendek.

Karena jendelanya pendek dan berupa rata-rata, angkanya cukup peka. Satu artikel yang sangat banyak disitasi bisa mengangkat nilai sebuah jurnal secara mencolok, dan nilainya bisa turun lagi pada tahun berikutnya ketika artikel tersebut keluar dari jendela penghitungan.

SJR atau SCImago Journal Rank

SJR mengolah data Scopus, tetapi tidak memperlakukan semua sitasi sebagai hal yang setara. Sitasi yang datang dari jurnal yang sendirinya banyak dirujuk diberi bobot lebih besar dibanding sitasi dari jurnal yang jarang dirujuk.

Gagasannya sederhana: dirujuk sekali oleh jurnal yang sangat dihormati di bidangnya dianggap lebih bermakna dibanding dirujuk sekali oleh jurnal yang nyaris tidak pernah dibaca siapa pun. Data SJR beserta riwayat tahunannya bisa ditelusuri terbuka lewat portal SCImago.

H-Index

Berbeda dari dua metrik sebelumnya, H-Index bisa dipakai untuk jurnal maupun untuk penulis perorangan. Nilai h berarti terdapat h karya yang masing-masing sudah disitasi paling sedikit h kali.

Kekuatannya adalah tidak mudah digoyang satu karya yang luar biasa populer, karena mengukur konsistensi, bukan puncak. Kelemahannya, nilainya hanya bisa naik dan tidak pernah turun, sehingga sangat dipengaruhi lamanya seseorang berkarya.

Kuartil Bukan Metrik, Melainkan Posisi

Q1 sampai Q4 sering disebut seolah metrik tersendiri, padahal kuartil adalah hasil pengurutan. Jurnal dalam satu kategori bidang diurutkan berdasarkan metrik tertentu, lalu dibagi empat kelompok sama besar. Q1 adalah seperempat teratas.

Sifat relatif inilah yang perlu diingat. Selalu ada jurnal di Q4 berapa pun mutu keseluruhan bidang tersebut, karena kuartil membagi apa yang ada, bukan mengukur terhadap ambang tetap. Sebuah jurnal juga bisa berpindah kuartil tanpa berubah apa pun pada dirinya, semata karena jurnal lain di kategorinya bergerak.

Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4

Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨

Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.

Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:

🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus

Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:

Fast Track
Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak
🌐 Peer Review 5 Negara
Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara
📝 Proofread dan Template
Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal
📋 Mendeley dan Turnitin Check
Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman

Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.

Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.

Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇

Daftar Pendampingan Publikasi Sekarang

Empat Cara Membaca Metrik yang Sering Keliru

1
Membandingkan Angka Lintas Bidang Ilmu
Budaya merujuk sangat berbeda antar disiplin. Bidang biomedis punya kebiasaan sitasi yang jauh lebih padat dibanding matematika murni atau ilmu hukum, sehingga jurnal terbaik di satu bidang bisa punya angka mentah lebih kecil daripada jurnal menengah di bidang lain.
2
Mengira Satu Jurnal Hanya Punya Satu Kuartil
Sebuah jurnal bisa terdaftar di beberapa kategori bidang sekaligus dan memperoleh kuartil berbeda di masing-masingnya. Kalau sebuah jurnal diiklankan sebagai Q1, periksa di kategori mana klaim itu berlaku.
3
Memakai H-Index untuk Membandingkan Peneliti Beda Generasi
Nilai h menumpuk seiring waktu dan tidak pernah turun. Peneliti yang sudah tiga puluh tahun berkarya punya keuntungan struktural dibanding peneliti yang baru lima tahun, terlepas dari mutu karyanya.
4
Menganggap Metrik Jurnal Mewakili Mutu Artikelmu
Metrik jurnal adalah rata-rata, dan distribusi sitasi di dalam sebuah jurnal biasanya sangat timpang. Sebagian kecil artikel menyumbang sebagian besar sitasi, sementara banyak artikel lain nyaris tidak disitasi sama sekali.

Poin keempat layak diperhatikan lebih lama. Menerbitkan artikel di jurnal ber-Impact Factor tinggi tidak dengan sendirinya membuat artikelmu banyak disitasi. Yang menentukan sitasi terhadap karyamu adalah relevansinya bagi peneliti lain di bidang yang sama, bukan rata-rata jurnal tempatnya terbit.

Metrik Mana yang Dipakai untuk Keperluan Apa

Dalam praktik di Indonesia, ketiganya muncul di konteks yang berbeda. Untuk memilih jurnal tujuan, kuartil pada kategori yang sesuai bidangmu biasanya paling praktis karena sudah memperhitungkan konteks disiplin. Untuk menilai apakah sebuah jurnal sedang menguat atau melemah, riwayat SJR beberapa tahun terakhir lebih informatif dibanding angka satu tahun.

Untuk keperluan administratif seperti kenaikan jabatan akademik, yang dipakai adalah ketentuan tertulis pada aturan yang berlaku, dan aturan itu menyebut kuartil beserta nilai minimum SJR atau Impact Factor secara spesifik.

🔒 Kalau Kamu Mencari Angka Ambang untuk Kenaikan Jabatan

Aturan karier akademik dosen memang menyebut nilai minimum SJR maupun Impact Factor sebagai bagian dari syarat khusus, dan ambangnya berbeda-beda tergantung jenjang yang dituju.

Namun angka yang beredar di berbagai artikel daring saat ini tidak seragam. Beberapa sumber menyebut ambang yang berlainan untuk jenjang yang sama, dan sebagian mengutip aturan yang sudah digantikan. Karena selisih kecil pada angka ini bisa menentukan diterima atau ditolaknya usulanmu, halaman ini sengaja tidak mencantumkan angkanya.

Rujuk langsung naskah keputusan menteri yang berlaku pada periode pengusulanmu, atau konfirmasi ke pengelola jabatan fungsional di kampusmu.

Untuk memahami dari mana metrik-metrik ini berasal dan bagaimana kaitannya dengan sistem indeksasi yang menghasilkannya, kamu bisa membaca uraian tentang indeksasi dan reputasi jurnal ilmiah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua jurnal terindeks punya Impact Factor?
Tidak. Impact Factor hanya diterbitkan untuk jurnal yang masuk koleksi tertentu di Web of Science. Jurnal yang terindeks Scopus tetapi tidak masuk koleksi tersebut tidak punya Impact Factor, meski punya CiteScore dan SJR.
Kenapa satu jurnal bisa Q1 di satu situs tapi Q2 di situs lain?
Karena kuartil dihitung terpisah untuk tiap sistem metrik dan tiap kategori bidang. Kuartil berbasis SJR dan kuartil berbasis Impact Factor adalah dua hal berbeda yang kebetulan memakai penamaan sama.
Bisakah H-Index saya turun?
Dalam keadaan normal tidak, karena sitasi yang sudah terjadi tidak hilang. Nilainya bisa terlihat berbeda antar basis data karena cakupan tiap basis data tidak sama.
Apakah jurnal tanpa metrik berarti tidak layak?
Belum tentu. Jurnal baru membutuhkan waktu sebelum punya cukup data sitasi untuk dihitung. Jurnal nasional terakreditasi juga dinilai dengan kerangka berbeda yang tidak bersandar pada metrik sitasi internasional.
Bagaimana cara mengecek metrik sebuah jurnal secara gratis?
Data SJR dan kuartilnya bisa ditelusuri terbuka lewat portal SCImago, termasuk riwayat beberapa tahun ke belakang. Untuk Impact Factor, aksesnya umumnya melalui langganan institusi, sehingga bisa ditanyakan ke perpustakaan kampusmu.

Penutup

Impact Factor menyoroti rata-rata sitasi dalam rentang pendek, SJR menimbang bobot pihak yang menyitasi, dan H-Index mengukur konsistensi. Kuartil bukan metrik tersendiri melainkan posisi relatif dalam sebuah kategori bidang.

Aturan pakai yang paling aman: jangan pernah membandingkan angka mentah lintas bidang ilmu, dan jangan menyimpulkan mutu sebuah artikel dari metrik jurnal tempatnya terbit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

CV INTERNATIONAL JOURNAL LABS Partner yang siap melayani setiap saat untuk mensukseskan karir anda.