Mengenal Indeksasi dan Reputasi Jurnal Ilmiah

Setiap kali seseorang menilai sebuah jurnal, sebenarnya ada dua pertanyaan berbeda yang sedang diajukan sekaligus. Pertanyaan pertama, jurnal ini tercatat di basis data mana saja. Pertanyaan kedua, seberapa dihargai jurnal ini di lingkungan akademik. Yang pertama soal indeksasi, yang kedua soal reputasi. Keduanya berhubungan, tapi tidak sama.

Mencampur keduanya adalah sumber kekeliruan yang paling sering terjadi. Dari sinilah muncul anggapan bahwa jurnal yang artikelnya bisa ditemukan di Google Scholar berarti sudah terindeks secara bermakna, atau bahwa jurnal yang memajang deretan logo basis data di berandanya pasti kredibel. Halaman ini menguraikan cara kerja indeksasi, apa yang sebenarnya diukur oleh metrik reputasi, dan bagaimana memverifikasi keduanya sendiri.

Indeksasi Jurnal Sebenarnya Menjawab Pertanyaan Apa

Pengindeks adalah basis data yang mengumpulkan metadata artikel ilmiah, yaitu judul, nama penulis, afiliasi, abstrak, kata kunci, dan daftar pustaka. Yang dikumpulkan umumnya bukan naskah utuhnya, melainkan keterangan tentang naskah tersebut beserta tautan menuju sumber aslinya.

Pengumpulan itu menghasilkan tiga hal yang tidak bisa didapat kalau artikel hanya diletakkan di situs jurnal. Pertama, artikelmu jadi bisa ditemukan orang yang tidak pernah mendengar nama jurnal tempatmu terbit. Kedua, sitasi terhadap karyamu bisa dilacak dan dihitung, karena daftar pustaka setiap artikel ikut terekam. Ketiga, status keterdaftaran itu bisa diverifikasi pihak lain, seperti pengelola jabatan fungsional di kampus atau pemberi hibah, tanpa harus percaya begitu saja pada klaim penerbitnya.

Poin ketiga inilah yang membuat indeksasi punya konsekuensi administratif, bukan sekadar urusan kemudahan pencarian.

Tidak Semua Pengindeks Menyeleksi Isinya

Perbedaan mendasar yang perlu dipahami lebih dulu adalah bahwa pengindeks terbagi menjadi dua jenis dengan cara kerja yang sama sekali berbeda.

Pengindeks Selektif
  • Ada badan atau tim penilai yang memutuskan jurnal mana yang boleh masuk
  • Punya kriteria tertulis soal tata kelola, telaah sejawat, dan keberkalaan terbit
  • Jurnal bisa dikeluarkan kembali kalau mutunya turun
  • Contohnya Sinta, Scopus, Web of Science, dan DOAJ
Pengindeks Non-Selektif
  • Mengumpulkan data secara otomatis lewat penjelajah web
  • Nyaris semua dokumen ilmiah yang bisa diakses daring akan terkumpul
  • Tidak ada penyaringan mutu sebelum sebuah artikel masuk
  • Contoh paling umum adalah Google Scholar

Konsekuensinya penting. Kehadiran artikel di pengindeks non-selektif tidak menyampaikan informasi apa pun tentang mutu jurnalnya, karena tidak ada yang disaring. Itu bukan berarti tidak berguna, sebab jangkauan pencariannya luas dan datanya terbuka. Yang keliru adalah menjadikannya sebagai bukti kredibilitas.

Sebaliknya, pada pengindeks selektif, keterdaftaran memang membawa makna karena ada ambang yang harus dilewati lebih dulu. Tapi ini pun ada batasnya, dan bagian selanjutnya akan membahas kenapa.

Peta Pengindeks yang Perlu Dikenali Akademisi Indonesia

Daftar berikut memuat basis data yang paling sering muncul dalam percakapan publikasi di Indonesia, beserta hal yang sebenarnya ditunjukkan oleh keterdaftaran di masing-masingnya.

Basis Data Pengelola Yang Sebenarnya Ditunjukkan
Sinta Kemdiktisaintek Peringkat akreditasi jurnal ilmiah nasional beserta masa berlakunya
Garuda Kemdiktisaintek Ketersediaan artikel terbitan Indonesia dalam satu portal terpadu, bukan penilaian mutu
DOAJ Yayasan nirlaba internasional Kepatuhan pada praktik akses terbuka yang transparan soal biaya, lisensi, dan proses telaah
Scopus Elsevier Lolos seleksi dewan penasihat isi, sekaligus menjadi basis metrik CiteScore dan SJR
Web of Science Clarivate Masuk salah satu koleksi terkurasi, dan untuk koleksi tertentu menjadi basis Impact Factor
Google Scholar Google Dokumennya dapat dijangkau penjelajah web, tanpa penyaringan mutu apa pun

Dua nama pertama beroperasi di ranah nasional, sementara Scopus dan Web of Science bekerja di ranah internasional dengan cakupan lintas negara. Perbedaan ranah ini sering disalahpahami sebagai perbedaan tingkatan, padahal keduanya menjawab kebutuhan yang berbeda. Uraian lebih rinci soal itu ada di pembahasan perbedaan jurnal nasional dan internasional, sedangkan perbandingan langsung antara dua sistem yang paling sering diadu bisa dibaca pada ulasan perbedaan jurnal Sinta dan Scopus.

Untuk pengenalan masing-masing sistem secara utuh, tersedia pembahasan tersendiri mengenai Sinta dan cara kerja akreditasinya serta penjelasan tentang Scopus sebagai basis data internasional.

Posisi Sinta dalam Kerangka Aturan yang Berlaku Sekarang

Di Indonesia, indeksasi nasional tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada proses akreditasi. Jurnal dinilai lebih dulu, hasilnya ditetapkan sebagai peringkat, lalu peringkat itulah yang ditampilkan di portal Sinta. Kerangka yang berlaku sekarang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah, yang ditetapkan pada 29 Juni 2026 dan menggantikan Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018.

Beberapa ketentuannya perlu diketahui penulis, bukan hanya pengelola jurnal. Pasal 9 menyatakan bahwa hasil akreditasi dinyatakan sebagai terakreditasi atau tidak terakreditasi, dan jurnal yang terakreditasi memperoleh peringkat 1 sampai peringkat 4 sesuai pemenuhan standar mutunya. Peringkat itu kemudian dimuat dalam sistem pengindeks ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 10 menetapkan masa berlaku peringkat selama lima tahun, dan mewajibkan jurnal mencantumkan peringkat beserta masa berlakunya di lamannya sendiri.

⚠️ Panduan lama yang menyebut enam peringkat sudah tidak sesuai. Sejak aturan ini berlaku, peringkat yang bisa diperoleh berhenti di peringkat 4. Namun Pasal 16 menegaskan bahwa peringkat akreditasi yang sudah ditetapkan sebelumnya tetap berlaku sampai masa berlakunya berakhir, sehingga jurnal yang saat ini masih berstatus peringkat 5 atau 6 tidak serta-merta kehilangan status terakreditasinya.

Ada satu ketentuan lain yang sering terlewat padahal sangat praktis. Pasal 4 ayat 2 huruf h mensyaratkan jurnal memiliki nomor seri standar internasional elektronik dan pengenal objek digital untuk dapat diakreditasi. Artinya EISSN dan DOI bukan pelengkap yang bersifat pilihan, melainkan syarat masuk. Kalau sebuah jurnal nasional tidak punya keduanya secara jelas, itu sinyal yang perlu ditelusuri lebih jauh. Fungsi dan perbedaan kedua pengenal ini dibahas terpisah dalam artikel tentang DOI dan ISSN.

Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4

Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨

Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.

Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:

🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus

Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:

Fast Track
Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak
🌐 Peer Review 5 Negara
Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara
📝 Proofread dan Template
Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal
📋 Mendeley dan Turnitin Check
Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman

Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.

Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.

Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇

Daftar Pendampingan Publikasi Sekarang

Bagaimana Reputasi Jurnal Diukur

Kalau indeksasi menjawab pertanyaan terdaftar atau tidak, reputasi menjawab pertanyaan yang lebih bergradasi: seberapa banyak karya di jurnal itu dirujuk orang lain, dan seberapa berbobot pihak yang merujuknya. Dari sinilah lahir berbagai metrik yang sering disebut sekaligus padahal cara hitungnya berbeda-beda.

1
Impact Factor
Dikelola Clarivate dan diterbitkan lewat Journal Citation Reports. Angkanya berasal dari rata-rata sitasi yang diterima artikel sebuah jurnal dalam dua tahun terakhir. Karena jendelanya pendek, nilainya cukup peka terhadap satu atau dua artikel yang sangat banyak disitasi.
2
SJR atau SCImago Journal Rank
Dihitung dari data Scopus, tapi tidak memperlakukan semua sitasi sama besar. Sitasi yang datang dari jurnal bergengsi diberi bobot lebih tinggi daripada sitasi dari jurnal yang jarang dirujuk, dengan jendela penghitungan tiga tahun.
3
CiteScore
Metrik resmi dari Scopus dengan jendela empat tahun. Basis penghitungannya lebih lebar dan mencakup lebih banyak jenis dokumen, sehingga angkanya cenderung lebih stabil dari tahun ke tahun dibanding metrik berjendela pendek.
4
H-Index
Bisa dipakai untuk jurnal maupun untuk penulis perorangan. Nilai h berarti terdapat h karya yang masing-masing sudah disitasi paling sedikit h kali. Angkanya menumpuk seiring waktu, jadi jurnal atau peneliti yang lebih tua punya keuntungan alami.
5
Kuartil Q1 sampai Q4
Bukan metrik yang berdiri sendiri, melainkan posisi relatif sebuah jurnal di dalam satu kategori bidang ilmu. Q1 berarti jurnal itu berada di seperempat teratas kategorinya berdasarkan metrik yang dipakai untuk mengurutkan.
📈 Angka Metrik Hanya Bermakna di Dalam Bidangnya

Budaya sitasi berbeda jauh antar disiplin. Bidang kedokteran dan ilmu hayati punya kebiasaan merujuk yang jauh lebih padat dibanding bidang humaniora atau ilmu hukum, sehingga jurnal terbaik di sebuah bidang humaniora bisa saja punya angka mentah yang lebih kecil daripada jurnal medis kelas menengah.

Karena itu membandingkan Impact Factor atau SJR lintas bidang menyesatkan. Kuartil membantu justru karena membandingkan sebuah jurnal hanya dengan jurnal lain di kategori yang sama. Perlu diingat juga bahwa satu jurnal bisa masuk beberapa kategori sekaligus dan memperoleh kuartil berbeda di masing-masingnya.

Data SJR dan kuartil bisa ditelusuri secara terbuka lewat SCImago Journal Rank, termasuk riwayat peringkat sebuah jurnal dari tahun ke tahun. Kalau kamu ingin memahami cara membaca angka-angka ini lebih dalam, termasuk kapan sebuah metrik justru menyesatkan, penjelasannya diuraikan pada artikel mengenai Impact Factor, SJR, dan H-Index.

Terindeks Hari Ini Tidak Berarti Terindeks Selamanya

Ini bagian yang paling sering luput. Keterdaftaran di pengindeks selektif bukan status permanen, melainkan status yang terus dipantau dan bisa dicabut.

Scopus memperbarui daftar sumbernya secara berkala dan menerbitkan lembar terpisah berisi jurnal yang pengindeksannya dihentikan. Pemicunya biasanya berupa pola sitasi yang menyimpang, pergeseran ruang lingkup yang tiba-tiba melebar, kelemahan pada proses telaah sejawat, atau masalah etika publikasi. Artikel yang sudah terbit sebelum tanggal penghentian umumnya tetap tercatat, tetapi terbitan sesudahnya tidak lagi masuk basis data.

Mekanisme serupa berlaku di ranah nasional. Pasal 15 Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 memberi kewenangan untuk melakukan pemantauan mutu secara berkala maupun sewaktu-waktu, termasuk berdasarkan pengaduan masyarakat yang terverifikasi. Kalau hasil pemantauan menunjukkan penurunan mutu, statusnya bisa diturunkan peringkatnya, dibekukan sementara, atau dicabut sama sekali.

Konsekuensi praktisnya sederhana tapi sering diabaikan: status jurnal perlu diperiksa pada saat kamu hendak mengirim naskah, bukan berdasarkan informasi yang kamu dengar setahun lalu. Di sisi lain, ada juga jurnal yang sejak awal memang tidak pernah memenuhi standar apa pun namun memajang klaim indeksasi palsu. Ciri-cirinya dibahas tuntas dalam panduan mengenali jurnal predator dan cara menghindarinya.

Cara Memverifikasi Status Sebuah Jurnal Sendiri

Seluruh pengecekan berikut bisa dilakukan tanpa akses berbayar dan biasanya selesai dalam belasan menit. Urutannya sengaja dimulai dari yang paling sulit dipalsukan.

1
Mulai dari nomor ISSN, bukan dari nama jurnal
Nama jurnal antar penerbit sering nyaris identik dan inilah celah yang dipakai situs tiruan. Cocokkan nomornya di portal ISSN internasional dan pastikan nama yang terdaftar persis sama dengan yang tertulis di laman jurnal.
2
Periksa status akreditasi dari portal resmi
Klaim yang tertulis di situs jurnal tidak cukup. Cek langsung di portal Sinta, lalu perhatikan bukan hanya peringkatnya tapi juga masa berlakunya. Riwayat surat keputusan akreditasinya bisa ditelusuri lewat portal ARJUNA.
3
Untuk klaim Scopus, buka daftar sumber resminya
Elsevier menerbitkan daftar sumber Scopus yang bisa diunduh, lengkap dengan lembar terpisah berisi jurnal yang sudah dihentikan pengindeksannya. Logo Scopus yang dipajang di situs jurnal tidak bisa dijadikan bukti tanpa pengecekan ini.
4
Untuk jurnal akses terbuka, cocokkan dengan DOAJ
Directory of Open Access Journals menyeleksi jurnal berdasarkan transparansi praktik penerbitannya, termasuk kejelasan biaya, lisensi, dan proses telaah. Ketidakhadiran di sana bukan otomatis pertanda buruk, tapi kehadirannya menambah keyakinan.
5
Uji satu DOI dari artikel yang sudah terbit
Salin pengenal objek digital dari salah satu artikel jurnal tersebut, lalu buka. Kalau tautannya tidak mengarah ke laman artikel yang benar atau tidak bisa dibuka sama sekali, ada masalah pada infrastruktur penerbitannya.
6
Cocokkan beberapa nama di dewan editor
Ambil tiga sampai lima nama dari dewan editor dan cari profil mereka di institusi yang dicantumkan. Praktik mencatut nama akademisi tanpa izin cukup sering terjadi. Daftar periksa dari Think. Check. Submit. berguna sebagai panduan tambahan di tahap ini.

Kalau salah satu langkah menghasilkan temuan yang janggal, itu belum tentu berarti jurnalnya bermasalah. Yang perlu kamu lakukan adalah menanyakannya langsung ke pengelola jurnal dan menilai kualitas jawabannya. Jurnal yang dikelola serius akan menjawab pertanyaan semacam ini dengan terbuka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Artikel saya muncul di Google Scholar, apakah itu berarti jurnalnya sudah terindeks?
Belum tentu bermakna. Google Scholar mengumpulkan dokumen secara otomatis tanpa menyeleksi mutu penerbitnya, sehingga kemunculan di sana hanya menunjukkan artikelmu bisa dijangkau mesin telusur. Untuk keperluan administratif, yang biasanya diminta adalah status di pengindeks selektif.
Apakah jurnal yang sudah terakreditasi Sinta otomatis terindeks Scopus?
Tidak. Keduanya adalah proses yang terpisah dengan penilai, kriteria, dan pengelola yang berbeda. Sebuah jurnal bisa terakreditasi peringkat tinggi di tingkat nasional tanpa pernah mengajukan diri ke Scopus, dan sebaliknya juga mungkin terjadi.
Mana yang lebih baik, jurnal Sinta 1 atau jurnal Scopus Q4?
Keduanya bukan bagian dari satu tangga yang sama, sehingga tidak bisa diurutkan secara langsung. Yang menentukan adalah tujuanmu. Untuk keperluan kenaikan jabatan akademik, aturan yang berlaku menyebutkan syarat peringkat jurnal nasional dan syarat kuartil jurnal internasional secara terpisah, jadi acuannya adalah ketentuan pada jenjang yang sedang kamu tuju.
Apa yang terjadi pada artikel saya kalau jurnalnya dikeluarkan dari pengindeks?
Artikel yang sudah terbit sebelum tanggal penghentian umumnya tetap tercatat di basis data dan tetap bisa disitasi. Yang berubah adalah terbitan setelah tanggal tersebut tidak lagi terindeks. Karena itu waktu terbit artikelmu relatif terhadap tanggal penghentian menjadi hal yang penting.
Apakah Impact Factor dan SJR mengukur hal yang sama?
Tidak persis sama. Keduanya sama-sama berbasis sitasi, tetapi bersumber dari basis data yang berbeda, memakai jendela waktu yang berbeda, dan SJR memberi bobot berbeda pada sitasi tergantung pada jurnal yang menyitasi. Karena itu sebuah jurnal bisa terlihat kuat pada satu metrik dan biasa saja pada metrik lainnya.

Kesimpulan

Indeksasi menjawab pertanyaan tentang keterdaftaran, sedangkan reputasi menjawab pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh sebuah jurnal. Memisahkan keduanya membuat penilaianmu jauh lebih jernih, terutama saat berhadapan dengan jurnal yang memajang banyak logo basis data namun tidak satupun berasal dari pengindeks yang benar-benar menyeleksi.

Untuk penulis di Indonesia, kerangka nasionalnya sekarang bersandar pada Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 dengan peringkat 1 sampai 4 dan masa berlaku lima tahun, sementara kerangka internasionalnya bertumpu pada basis data terkurasi beserta metrik turunannya. Kebiasaan yang paling berguna tetap sederhana: verifikasi status jurnal langsung dari sumber resminya tepat sebelum kamu mengirim naskah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

CV INTERNATIONAL JOURNAL LABS Partner yang siap melayani setiap saat untuk mensukseskan karir anda.