Setiap kali seseorang menilai sebuah jurnal, sebenarnya ada dua pertanyaan berbeda yang sedang diajukan sekaligus. Pertanyaan pertama, jurnal ini tercatat di basis data mana saja. Pertanyaan kedua, seberapa dihargai jurnal ini di lingkungan akademik. Yang pertama soal indeksasi, yang kedua soal reputasi. Keduanya berhubungan, tapi tidak sama.
Mencampur keduanya adalah sumber kekeliruan yang paling sering terjadi. Dari sinilah muncul anggapan bahwa jurnal yang artikelnya bisa ditemukan di Google Scholar berarti sudah terindeks secara bermakna, atau bahwa jurnal yang memajang deretan logo basis data di berandanya pasti kredibel. Halaman ini menguraikan cara kerja indeksasi, apa yang sebenarnya diukur oleh metrik reputasi, dan bagaimana memverifikasi keduanya sendiri.
Table of Contents
TogglePengindeks adalah basis data yang mengumpulkan metadata artikel ilmiah, yaitu judul, nama penulis, afiliasi, abstrak, kata kunci, dan daftar pustaka. Yang dikumpulkan umumnya bukan naskah utuhnya, melainkan keterangan tentang naskah tersebut beserta tautan menuju sumber aslinya.
Pengumpulan itu menghasilkan tiga hal yang tidak bisa didapat kalau artikel hanya diletakkan di situs jurnal. Pertama, artikelmu jadi bisa ditemukan orang yang tidak pernah mendengar nama jurnal tempatmu terbit. Kedua, sitasi terhadap karyamu bisa dilacak dan dihitung, karena daftar pustaka setiap artikel ikut terekam. Ketiga, status keterdaftaran itu bisa diverifikasi pihak lain, seperti pengelola jabatan fungsional di kampus atau pemberi hibah, tanpa harus percaya begitu saja pada klaim penerbitnya.
Poin ketiga inilah yang membuat indeksasi punya konsekuensi administratif, bukan sekadar urusan kemudahan pencarian.
Perbedaan mendasar yang perlu dipahami lebih dulu adalah bahwa pengindeks terbagi menjadi dua jenis dengan cara kerja yang sama sekali berbeda.
Konsekuensinya penting. Kehadiran artikel di pengindeks non-selektif tidak menyampaikan informasi apa pun tentang mutu jurnalnya, karena tidak ada yang disaring. Itu bukan berarti tidak berguna, sebab jangkauan pencariannya luas dan datanya terbuka. Yang keliru adalah menjadikannya sebagai bukti kredibilitas.
Sebaliknya, pada pengindeks selektif, keterdaftaran memang membawa makna karena ada ambang yang harus dilewati lebih dulu. Tapi ini pun ada batasnya, dan bagian selanjutnya akan membahas kenapa.
Daftar berikut memuat basis data yang paling sering muncul dalam percakapan publikasi di Indonesia, beserta hal yang sebenarnya ditunjukkan oleh keterdaftaran di masing-masingnya.
| Basis Data | Pengelola | Yang Sebenarnya Ditunjukkan |
|---|---|---|
| Sinta | Kemdiktisaintek | Peringkat akreditasi jurnal ilmiah nasional beserta masa berlakunya |
| Garuda | Kemdiktisaintek | Ketersediaan artikel terbitan Indonesia dalam satu portal terpadu, bukan penilaian mutu |
| DOAJ | Yayasan nirlaba internasional | Kepatuhan pada praktik akses terbuka yang transparan soal biaya, lisensi, dan proses telaah |
| Scopus | Elsevier | Lolos seleksi dewan penasihat isi, sekaligus menjadi basis metrik CiteScore dan SJR |
| Web of Science | Clarivate | Masuk salah satu koleksi terkurasi, dan untuk koleksi tertentu menjadi basis Impact Factor |
| Google Scholar | Dokumennya dapat dijangkau penjelajah web, tanpa penyaringan mutu apa pun |
Dua nama pertama beroperasi di ranah nasional, sementara Scopus dan Web of Science bekerja di ranah internasional dengan cakupan lintas negara. Perbedaan ranah ini sering disalahpahami sebagai perbedaan tingkatan, padahal keduanya menjawab kebutuhan yang berbeda. Uraian lebih rinci soal itu ada di pembahasan perbedaan jurnal nasional dan internasional, sedangkan perbandingan langsung antara dua sistem yang paling sering diadu bisa dibaca pada ulasan perbedaan jurnal Sinta dan Scopus.
Untuk pengenalan masing-masing sistem secara utuh, tersedia pembahasan tersendiri mengenai Sinta dan cara kerja akreditasinya serta penjelasan tentang Scopus sebagai basis data internasional.
Di Indonesia, indeksasi nasional tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada proses akreditasi. Jurnal dinilai lebih dulu, hasilnya ditetapkan sebagai peringkat, lalu peringkat itulah yang ditampilkan di portal Sinta. Kerangka yang berlaku sekarang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah, yang ditetapkan pada 29 Juni 2026 dan menggantikan Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018.
Beberapa ketentuannya perlu diketahui penulis, bukan hanya pengelola jurnal. Pasal 9 menyatakan bahwa hasil akreditasi dinyatakan sebagai terakreditasi atau tidak terakreditasi, dan jurnal yang terakreditasi memperoleh peringkat 1 sampai peringkat 4 sesuai pemenuhan standar mutunya. Peringkat itu kemudian dimuat dalam sistem pengindeks ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 10 menetapkan masa berlaku peringkat selama lima tahun, dan mewajibkan jurnal mencantumkan peringkat beserta masa berlakunya di lamannya sendiri.
Ada satu ketentuan lain yang sering terlewat padahal sangat praktis. Pasal 4 ayat 2 huruf h mensyaratkan jurnal memiliki nomor seri standar internasional elektronik dan pengenal objek digital untuk dapat diakreditasi. Artinya EISSN dan DOI bukan pelengkap yang bersifat pilihan, melainkan syarat masuk. Kalau sebuah jurnal nasional tidak punya keduanya secara jelas, itu sinyal yang perlu ditelusuri lebih jauh. Fungsi dan perbedaan kedua pengenal ini dibahas terpisah dalam artikel tentang DOI dan ISSN.
Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨
Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.
Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:
🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus
Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:
| ⚡ Fast Track Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak |
🌐 Peer Review 5 Negara Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara |
| 📝 Proofread dan Template Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal |
📋 Mendeley dan Turnitin Check Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman |
Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.
Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.
Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇
Kalau indeksasi menjawab pertanyaan terdaftar atau tidak, reputasi menjawab pertanyaan yang lebih bergradasi: seberapa banyak karya di jurnal itu dirujuk orang lain, dan seberapa berbobot pihak yang merujuknya. Dari sinilah lahir berbagai metrik yang sering disebut sekaligus padahal cara hitungnya berbeda-beda.
Budaya sitasi berbeda jauh antar disiplin. Bidang kedokteran dan ilmu hayati punya kebiasaan merujuk yang jauh lebih padat dibanding bidang humaniora atau ilmu hukum, sehingga jurnal terbaik di sebuah bidang humaniora bisa saja punya angka mentah yang lebih kecil daripada jurnal medis kelas menengah.
Karena itu membandingkan Impact Factor atau SJR lintas bidang menyesatkan. Kuartil membantu justru karena membandingkan sebuah jurnal hanya dengan jurnal lain di kategori yang sama. Perlu diingat juga bahwa satu jurnal bisa masuk beberapa kategori sekaligus dan memperoleh kuartil berbeda di masing-masingnya.
Data SJR dan kuartil bisa ditelusuri secara terbuka lewat SCImago Journal Rank, termasuk riwayat peringkat sebuah jurnal dari tahun ke tahun. Kalau kamu ingin memahami cara membaca angka-angka ini lebih dalam, termasuk kapan sebuah metrik justru menyesatkan, penjelasannya diuraikan pada artikel mengenai Impact Factor, SJR, dan H-Index.
Ini bagian yang paling sering luput. Keterdaftaran di pengindeks selektif bukan status permanen, melainkan status yang terus dipantau dan bisa dicabut.
Scopus memperbarui daftar sumbernya secara berkala dan menerbitkan lembar terpisah berisi jurnal yang pengindeksannya dihentikan. Pemicunya biasanya berupa pola sitasi yang menyimpang, pergeseran ruang lingkup yang tiba-tiba melebar, kelemahan pada proses telaah sejawat, atau masalah etika publikasi. Artikel yang sudah terbit sebelum tanggal penghentian umumnya tetap tercatat, tetapi terbitan sesudahnya tidak lagi masuk basis data.
Mekanisme serupa berlaku di ranah nasional. Pasal 15 Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 memberi kewenangan untuk melakukan pemantauan mutu secara berkala maupun sewaktu-waktu, termasuk berdasarkan pengaduan masyarakat yang terverifikasi. Kalau hasil pemantauan menunjukkan penurunan mutu, statusnya bisa diturunkan peringkatnya, dibekukan sementara, atau dicabut sama sekali.
Konsekuensi praktisnya sederhana tapi sering diabaikan: status jurnal perlu diperiksa pada saat kamu hendak mengirim naskah, bukan berdasarkan informasi yang kamu dengar setahun lalu. Di sisi lain, ada juga jurnal yang sejak awal memang tidak pernah memenuhi standar apa pun namun memajang klaim indeksasi palsu. Ciri-cirinya dibahas tuntas dalam panduan mengenali jurnal predator dan cara menghindarinya.
Seluruh pengecekan berikut bisa dilakukan tanpa akses berbayar dan biasanya selesai dalam belasan menit. Urutannya sengaja dimulai dari yang paling sulit dipalsukan.
Kalau salah satu langkah menghasilkan temuan yang janggal, itu belum tentu berarti jurnalnya bermasalah. Yang perlu kamu lakukan adalah menanyakannya langsung ke pengelola jurnal dan menilai kualitas jawabannya. Jurnal yang dikelola serius akan menjawab pertanyaan semacam ini dengan terbuka.
Indeksasi menjawab pertanyaan tentang keterdaftaran, sedangkan reputasi menjawab pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh sebuah jurnal. Memisahkan keduanya membuat penilaianmu jauh lebih jernih, terutama saat berhadapan dengan jurnal yang memajang banyak logo basis data namun tidak satupun berasal dari pengindeks yang benar-benar menyeleksi.
Untuk penulis di Indonesia, kerangka nasionalnya sekarang bersandar pada Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 dengan peringkat 1 sampai 4 dan masa berlaku lima tahun, sementara kerangka internasionalnya bertumpu pada basis data terkurasi beserta metrik turunannya. Kebiasaan yang paling berguna tetap sederhana: verifikasi status jurnal langsung dari sumber resminya tepat sebelum kamu mengirim naskah.