Gambaran lama tentang jurnal predator adalah situs berantakan dengan bahasa Inggris kacau dan tawaran terbit dalam tiga hari. Gambaran itu sudah tidak sepenuhnya berlaku. Sebagian pelaku kini menampilkan situs yang rapi, memakai sistem pengelolaan naskah yang sama dengan jurnal sungguhan, bahkan mencantumkan nomor ISSN yang sah.
Karena itu, mengandalkan kesan visual sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pemeriksaan yang bisa diulang, dan untungnya seluruh pemeriksaan itu bisa dilakukan sendiri tanpa akses berbayar.
Table of Contents
ToggleInti persoalannya bukan pada besarnya biaya publikasi. Banyak jurnal yang sepenuhnya sah memungut biaya pemrosesan artikel untuk menutup ongkos operasional, dan itu praktik yang wajar selama dinyatakan terbuka.
Yang membuat sebuah penerbit disebut predator adalah ketika biaya dipungut tanpa memberikan layanan yang dijanjikan, terutama telaah sejawat yang sungguhan. Naskah diterima nyaris tanpa catatan, tidak ada penyuntingan yang berarti, dan yang benar-benar dijual adalah kecepatan terbit beserta kesan sudah dipublikasikan.
Kerangka regulasi di Indonesia menyentuh persoalan ini secara langsung. Peraturan akreditasi jurnal yang berlaku mensyaratkan jurnal diterbitkan oleh penerbit yang berintegritas dan menerbitkan artikel yang telah melalui proses telaah sejawat sebagai syarat untuk dapat diakreditasi. Dengan kata lain, ketiadaan telaah sejawat yang sungguhan bukan sekadar persoalan etika, melainkan menutup pintu akreditasi sejak awal.
Sebagian besar penulis pertama kali bersentuhan dengan jurnal predator lewat surel. Pola berikut cukup khas.
Perlu ditegaskan, tidak semua ajakan mengirim naskah bersifat predator. Jurnal yang sah kadang juga mengirim pengumuman panggilan naskah. Yang membedakan adalah kejelasan ruang lingkup, kewajaran janji waktu, dan apakah pembicaraan langsung mengarah ke pembayaran.
Kalau surelnya sudah lolos saringan pertama, pemeriksaan berikutnya dilakukan pada laman jurnalnya sendiri.
Bayangkan nama kamu tercantum sebagai penulis di jurnal nasional terakreditasi Sinta tahun ini juga ✨
Program Pendampingan Publikasi Jurnal Sinta 1, 2, 3, dan 4 hadir untuk mewujudkannya.
Dalam 2 sampai 3 minggu, kamu sudah bisa memegang Letter of Acceptance dari jurnal terakreditasi ARJUNA. Artinya, tahun ini kamu bisa:
🎓 Menambah poin BKD dan mempercepat kenaikan Jabfung
🎓 Melengkapi syarat yudisium dan kelulusan S1 S2
🎓 Memperkuat portofolio untuk hibah riset dan IKU kampus
Dan kamu tidak berjalan sendiri. Naskahmu didampingi penuh:
| ⚡ Fast Track Proses dipercepat untuk kebutuhan LOA mendesak |
🌐 Peer Review 5 Negara Naskah ditinjau reviewer profesional lintas negara |
| 📝 Proofread dan Template Bahasa dirapikan dan format disesuaikan template jurnal |
📋 Mendeley dan Turnitin Check Sitasi dirapikan, similarity dipastikan aman |
Revisi pun cukup minor karena naskah sudah dirapikan sejak awal.
Bonus: E-Certificate dan indeksasi di EBSCO, Index Copernicus, Google Scholar, Dimensions, dan GARUDA yang membuat karyamu mudah ditemukan dan disitasi.
Semua bidang ilmu diterima. Mulai langkah publikasimu hari ini 👇
Situs jurnal tiruan. Pelaku membuat situs yang meniru jurnal asli yang benar-benar bereputasi, memakai nama dan nomor ISSN yang sama, lalu menampung naskah dan biaya dari penulis yang tidak curiga. Penangkalnya adalah selalu masuk ke laman jurnal lewat tautan dari portal resmi atau basis data, bukan lewat hasil pencarian.
Metrik karangan sendiri. Muncul angka bernama mirip metrik resmi, misalnya sebutan impact factor yang diterbitkan lembaga yang tidak dikenal. Impact Factor yang diakui berasal dari Clarivate lewat Journal Citation Reports, sedangkan SJR berasal dari SCImago. Di luar itu, perlakukan sebagai klaim yang belum terbukti.
Rangkaian berikut biasanya selesai dalam belasan menit dan urutannya disusun dari yang paling sulit dipalsukan.
Satu temuan janggal belum tentu berarti jurnalnya predator. Yang perlu kamu perhatikan adalah pola. Jurnal yang gagal pada beberapa pemeriksaan sekaligus, terutama pada keterlacakan dewan editor dan kejelasan biaya, sebaiknya ditinggalkan.
Situasi ini lebih umum dari yang dibicarakan orang, dan yang paling merugikan justru kepanikan yang menyusul. Beberapa hal yang perlu diketahui.
Artikel yang sudah terbit umumnya tidak bisa ditarik sepihak, dan mengirim ulang naskah yang sama ke jurnal lain menimbulkan persoalan publikasi ganda yang justru lebih serius. Langkah pertama yang lebih tepat adalah membaca kebijakan penarikan artikel di jurnal tersebut dan mengajukan permintaan secara tertulis.
Untuk keperluan administratif, konsultasikan dengan pengelola jabatan fungsional atau lembaga penelitian di kampusmu sebelum artikel tersebut dimasukkan ke berkas usulan. Menyampaikan persoalannya lebih awal jauh lebih baik daripada persoalan itu ditemukan saat penilaian berlangsung.
Untuk memahami kenapa klaim keterindeksan begitu mudah dijadikan alat menipu, dan bagaimana membedakan pengindeks yang menyeleksi dari yang tidak, kamu bisa membaca pembahasan tentang indeksasi dan reputasi jurnal.
Jurnal predator hari ini tidak selalu terlihat murahan, sehingga penilaian berdasarkan kesan sudah tidak dapat diandalkan. Yang membedakan bukan tampilan situsnya, melainkan ada tidaknya telaah sejawat yang sungguhan dan keterbukaan soal biaya.
Biasakan satu hal sederhana: selalu masuk ke laman jurnal lewat tautan dari portal resmi, dan luangkan belasan menit untuk memeriksa sebelum mengirim. Waktu sebanyak itu jauh lebih murah dibanding memperbaiki akibatnya di kemudian hari.