Apa Itu Scopus? Akademisi Wajib Tahu!

Dalam percakapan sehari-hari di lingkungan kampus Indonesia, kata Scopus dipakai untuk banyak hal sekaligus. Kadang merujuk pada basis datanya, kadang pada jurnalnya, kadang pada semacam standar mutu. Pencampuran ini melahirkan sejumlah salah paham yang berbiaya mahal, termasuk munculnya tawaran publikasi yang sebenarnya tidak masuk akal.

Cara paling cepat memahaminya justru dengan menegaskan lebih dulu apa yang bukan Scopus.

Tiga Hal yang Sering Dikira Scopus Padahal Bukan

1
Scopus Bukan Penerbit Jurnal
Scopus tidak menerbitkan artikel dan tidak menarik biaya publikasi dari penulis. Kalau ada pihak yang menawarkan penerbitan langsung di Scopus, penawaran itu keliru sejak premisnya. Yang bisa terjadi adalah artikelmu terbit di jurnal yang kebetulan terindeks Scopus.
2
Scopus Bukan Nama Sebuah Jurnal
Tidak ada terbitan bernama Jurnal Scopus. Istilah jurnal Scopus di percakapan sehari-hari sebenarnya merujuk pada jurnal yang terindeks di basis data tersebut, dan jumlahnya ribuan dengan mutu yang sangat beragam.
3
Scopus Bukan Sertifikat Mutu yang Permanen
Keterdaftaran sebuah jurnal ditinjau terus-menerus dan bisa dihentikan. Karena itu, status terindeks perlu diperiksa pada saat kamu hendak mengirim naskah, bukan berdasarkan informasi yang beredar beberapa waktu lalu.

Lalu Scopus Itu Sebenarnya Apa

Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi yang dikelola Elsevier. Yang dikumpulkan bukan naskah lengkap setiap artikel, melainkan metadatanya: judul, penulis, afiliasi, abstrak, kata kunci, dan yang paling penting, daftar pustaka.

Daftar pustaka inilah kunci seluruh sistemnya. Karena setiap rujukan ikut terekam, Scopus bisa memetakan siapa menyitasi siapa, dan dari peta itulah lahir berbagai metrik yang kemudian dipakai untuk menilai jurnal maupun penulis.

Cakupannya bersifat selektif. Sebuah jurnal tidak otomatis masuk hanya karena terbit secara daring, melainkan harus melalui penilaian dewan penasihat isi yang meninjau kelayakannya berdasarkan sejumlah kriteria, di antaranya kejelasan proses telaah sejawat, keteraturan terbit, mutu editorial, dan keberagaman kontributor.

Metrik yang Lahir dari Data Scopus

Beberapa angka yang sering disebut sebenarnya berasal dari basis data yang sama, hanya dihitung dengan cara berbeda.

Metrik Cara Kerjanya Secara Ringkas
CiteScore Metrik resmi Scopus dengan jendela penghitungan empat tahun dan cakupan jenis dokumen yang cukup luas
SJR Memberi bobot lebih besar pada sitasi yang datang dari jurnal bergengsi, dengan jendela tiga tahun
SNIP Menyesuaikan hitungan sitasi terhadap kebiasaan merujuk di bidang ilmu masing-masing
Kuartil Q1 sampai Q4 Posisi relatif jurnal dalam satu kategori bidang, bukan nilai absolut yang berdiri sendiri

Data SJR beserta kuartilnya bisa ditelusuri secara terbuka lewat SCImago Journal Rank, termasuk riwayat perubahan peringkat sebuah jurnal dari tahun ke tahun. Riwayat ini berguna karena jurnal yang kuartilnya naik turun tajam biasanya menyimpan cerita yang perlu ditelusuri.

Pendampingan Publikasi Jurnal Scopus Q1, Q2, Q3, dan Q4

Pendampingan penyiapan naskah untuk jurnal internasional terindeks Scopus, mulai dari perapian bahasa Inggris akademik sampai proses submit melalui OJS.

Cocok untuk kebutuhan:

  • BKD dan jabfung
  • Kepangkatan
  • Akreditasi perguruan tinggi
  • Luaran hibah penelitian dan IKU kampus
  • Persyaratan pendaftaran S3

Yang kamu dapatkan:

  • Proofreading bahasa Inggris akademik
  • Penyesuaian template dan gaya sitasi jurnal tujuan
  • Cek Turnitin dan perapian daftar pustaka dengan Mendeley
  • Proses peer review dengan reviewer lintas negara
  • Corresponding author tetap aktif, korespondensi tersedia by OJS
  • LoA resmi, DOI aktif, open access
  • E-Certificate

Daftar Pendampingan Publikasi Sekarang

Kenapa Terindeks Scopus Saja Belum Tentu Cukup

Ini bagian yang jarang dibahas, padahal berdampak besar bagi dosen. Untuk keperluan kenaikan jabatan akademik, status terindeks Scopus saja tidak otomatis membuat sebuah jurnal memenuhi syarat. Ada definisi operasional tersendiri untuk istilah jurnal internasional bereputasi, dan definisi itu memuat kriteria tambahan.

1
Memiliki nomor seri standar internasional
Jurnal harus punya ISSN yang bisa diverifikasi, bukan sekadar nomor yang dicantumkan sepihak di laman jurnal.
2
Artikel ditulis dalam bahasa resmi PBB
Yaitu bahasa Arab, Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, atau Tiongkok. Jurnal berbahasa Indonesia tidak masuk kategori ini meski terindeks di basis data internasional.
3
Dewan editor berasal dari paling sedikit empat negara
Dewan editor juga harus merupakan pakar di bidangnya, bukan sekadar nama yang dicantumkan untuk memenuhi jumlah.
4
Penulis dalam satu nomor terbitan berasal dari paling sedikit dua negara
Ini menguji apakah jurnal benar-benar menjangkau kontributor lintas negara atau hanya melayani satu lingkungan penulis saja.
5
Dewan editor dapat ditelusuri daring dan konsisten
Tidak boleh ada perbedaan antara editor yang tercantum di edisi cetak dan edisi daring.
6
Jumlah artikel per terbitan wajar dan format tidak berubah-ubah
Lonjakan jumlah artikel yang tidak wajar dan tampilan terbitan yang tidak konsisten termasuk hal yang diperiksa.

Artinya sangat mungkin sebuah jurnal terindeks Scopus namun tidak memenuhi definisi jurnal internasional bereputasi, misalnya karena dewan editornya hanya berasal dari dua negara atau karena penulis dalam satu nomor terbitan seluruhnya berasal dari satu negara. Memeriksa hal ini sebelum mengirim naskah jauh lebih murah daripada mengetahuinya setelah artikel terbit.

⚖️ Soal Ambang Angka SJR, Jangan Bersandar pada Artikel Blog

Selain kriteria di atas, aturan karier dosen juga menetapkan ambang minimum berupa kuartil beserta nilai SJR atau Impact Factor, dan ambangnya berbeda untuk tiap jenjang jabatan akademik yang dituju.

Masalahnya, angka yang beredar di berbagai artikel daring saat ini tidak seragam. Beberapa sumber menyebut ambang yang berbeda untuk jenjang yang sama. Karena selisih kecil pada angka ini bisa menentukan diterima atau ditolaknya usulanmu, jangan mengambil angka dari artikel blog mana pun, termasuk halaman ini.

Buka naskah keputusan menterinya langsung, atau konfirmasi ke pengelola jabatan fungsional di kampusmu untuk periode pengusulan yang sedang berjalan.

Jurnal Bisa Dikeluarkan dari Scopus

Elsevier memperbarui daftar sumbernya secara berkala dan menyediakan lembar terpisah berisi jurnal yang pengindeksannya dihentikan. Pemicunya beragam, mulai dari pola sitasi yang menyimpang seperti sitasi diri yang berlebihan, pergeseran ruang lingkup yang tiba-tiba melebar, kelemahan pada proses telaah sejawat, sampai persoalan etika publikasi.

Yang perlu dipahami penulis, artikel yang sudah terbit sebelum tanggal penghentian umumnya tetap tercatat di basis data dan tetap bisa disitasi. Yang tidak lagi masuk adalah terbitan setelah tanggal tersebut. Karena itu posisi tanggal terbit artikelmu relatif terhadap tanggal penghentian menjadi penentu.

Perlu dicatat juga bahwa aturan karier dosen secara khusus mengecualikan jurnal yang statusnya dibatalkan atau cakupannya dihentikan. Jadi konsekuensinya bukan sekadar soal gengsi, melainkan menyangkut sah tidaknya publikasi tersebut dipakai sebagai syarat.

Untuk gambaran menyeluruh soal posisi Scopus di antara basis data lain, termasuk yang beroperasi di ranah nasional, kamu bisa membaca pembahasan tentang cara kerja indeksasi dan reputasi jurnal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua jurnal yang terindeks Scopus punya mutu yang setara?
Tidak. Rentang mutunya sangat lebar, dari jurnal yang sangat kompetitif sampai jurnal yang baru saja lolos ambang seleksi. Kuartil dan metrik lain membantu membedakannya, tapi tetap perlu dibaca dalam konteks bidang ilmunya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebuah jurnal untuk bisa masuk Scopus?
Tidak ada durasi baku karena bergantung pada antrean penilaian dan kelengkapan jurnal yang diajukan. Yang jelas, pengajuan dilakukan oleh pengelola jurnal, bukan oleh penulis artikel.
Apakah Scopus dan Web of Science memuat jurnal yang sama?
Ada irisan yang cukup besar, tapi keduanya dikelola perusahaan berbeda dengan proses seleksi masing-masing. Sebuah jurnal bisa terindeks di salah satunya saja, dan metrik yang dihasilkan keduanya juga berbeda.
Kalau jurnal saya terindeks Scopus tapi berbahasa Indonesia, apakah tetap dihitung internasional?
Untuk keperluan syarat kenaikan jabatan akademik, penggunaan bahasa resmi PBB termasuk salah satu kriteria yang diperiksa. Jadi jawabannya bergantung pada keperluan penilaiannya, bukan semata pada status terindeks.
Apakah ada biaya untuk mengecek status jurnal di Scopus?
Untuk pengecekan dasar seperti apakah sebuah jurnal termasuk sumber aktif atau sudah dihentikan, informasinya tersedia lewat daftar sumber resmi yang bisa diunduh tanpa berlangganan.

Ringkasan

Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi milik Elsevier yang menyeleksi jurnal sebelum memasukkannya, bukan penerbit dan bukan nama sebuah jurnal. Dari data sitasi yang dikumpulkannya lahir metrik seperti CiteScore, SJR, SNIP, dan kuartil.

Dua hal yang paling penting diingat: status terindeks bisa dicabut sewaktu-waktu, dan untuk keperluan karier akademik, terindeks Scopus saja belum tentu memenuhi definisi jurnal internasional bereputasi yang dipakai dalam aturan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

CV INTERNATIONAL JOURNAL LABS Partner yang siap melayani setiap saat untuk mensukseskan karir anda.