Dalam percakapan sehari-hari di lingkungan kampus Indonesia, kata Scopus dipakai untuk banyak hal sekaligus. Kadang merujuk pada basis datanya, kadang pada jurnalnya, kadang pada semacam standar mutu. Pencampuran ini melahirkan sejumlah salah paham yang berbiaya mahal, termasuk munculnya tawaran publikasi yang sebenarnya tidak masuk akal.
Cara paling cepat memahaminya justru dengan menegaskan lebih dulu apa yang bukan Scopus.
Table of Contents
ToggleScopus adalah basis data abstrak dan sitasi yang dikelola Elsevier. Yang dikumpulkan bukan naskah lengkap setiap artikel, melainkan metadatanya: judul, penulis, afiliasi, abstrak, kata kunci, dan yang paling penting, daftar pustaka.
Daftar pustaka inilah kunci seluruh sistemnya. Karena setiap rujukan ikut terekam, Scopus bisa memetakan siapa menyitasi siapa, dan dari peta itulah lahir berbagai metrik yang kemudian dipakai untuk menilai jurnal maupun penulis.
Cakupannya bersifat selektif. Sebuah jurnal tidak otomatis masuk hanya karena terbit secara daring, melainkan harus melalui penilaian dewan penasihat isi yang meninjau kelayakannya berdasarkan sejumlah kriteria, di antaranya kejelasan proses telaah sejawat, keteraturan terbit, mutu editorial, dan keberagaman kontributor.
Beberapa angka yang sering disebut sebenarnya berasal dari basis data yang sama, hanya dihitung dengan cara berbeda.
| Metrik | Cara Kerjanya Secara Ringkas |
|---|---|
| CiteScore | Metrik resmi Scopus dengan jendela penghitungan empat tahun dan cakupan jenis dokumen yang cukup luas |
| SJR | Memberi bobot lebih besar pada sitasi yang datang dari jurnal bergengsi, dengan jendela tiga tahun |
| SNIP | Menyesuaikan hitungan sitasi terhadap kebiasaan merujuk di bidang ilmu masing-masing |
| Kuartil Q1 sampai Q4 | Posisi relatif jurnal dalam satu kategori bidang, bukan nilai absolut yang berdiri sendiri |
Data SJR beserta kuartilnya bisa ditelusuri secara terbuka lewat SCImago Journal Rank, termasuk riwayat perubahan peringkat sebuah jurnal dari tahun ke tahun. Riwayat ini berguna karena jurnal yang kuartilnya naik turun tajam biasanya menyimpan cerita yang perlu ditelusuri.
Pendampingan penyiapan naskah untuk jurnal internasional terindeks Scopus, mulai dari perapian bahasa Inggris akademik sampai proses submit melalui OJS.
Cocok untuk kebutuhan:
Yang kamu dapatkan:
Ini bagian yang jarang dibahas, padahal berdampak besar bagi dosen. Untuk keperluan kenaikan jabatan akademik, status terindeks Scopus saja tidak otomatis membuat sebuah jurnal memenuhi syarat. Ada definisi operasional tersendiri untuk istilah jurnal internasional bereputasi, dan definisi itu memuat kriteria tambahan.
Artinya sangat mungkin sebuah jurnal terindeks Scopus namun tidak memenuhi definisi jurnal internasional bereputasi, misalnya karena dewan editornya hanya berasal dari dua negara atau karena penulis dalam satu nomor terbitan seluruhnya berasal dari satu negara. Memeriksa hal ini sebelum mengirim naskah jauh lebih murah daripada mengetahuinya setelah artikel terbit.
Selain kriteria di atas, aturan karier dosen juga menetapkan ambang minimum berupa kuartil beserta nilai SJR atau Impact Factor, dan ambangnya berbeda untuk tiap jenjang jabatan akademik yang dituju.
Masalahnya, angka yang beredar di berbagai artikel daring saat ini tidak seragam. Beberapa sumber menyebut ambang yang berbeda untuk jenjang yang sama. Karena selisih kecil pada angka ini bisa menentukan diterima atau ditolaknya usulanmu, jangan mengambil angka dari artikel blog mana pun, termasuk halaman ini.
Buka naskah keputusan menterinya langsung, atau konfirmasi ke pengelola jabatan fungsional di kampusmu untuk periode pengusulan yang sedang berjalan.
Elsevier memperbarui daftar sumbernya secara berkala dan menyediakan lembar terpisah berisi jurnal yang pengindeksannya dihentikan. Pemicunya beragam, mulai dari pola sitasi yang menyimpang seperti sitasi diri yang berlebihan, pergeseran ruang lingkup yang tiba-tiba melebar, kelemahan pada proses telaah sejawat, sampai persoalan etika publikasi.
Yang perlu dipahami penulis, artikel yang sudah terbit sebelum tanggal penghentian umumnya tetap tercatat di basis data dan tetap bisa disitasi. Yang tidak lagi masuk adalah terbitan setelah tanggal tersebut. Karena itu posisi tanggal terbit artikelmu relatif terhadap tanggal penghentian menjadi penentu.
Perlu dicatat juga bahwa aturan karier dosen secara khusus mengecualikan jurnal yang statusnya dibatalkan atau cakupannya dihentikan. Jadi konsekuensinya bukan sekadar soal gengsi, melainkan menyangkut sah tidaknya publikasi tersebut dipakai sebagai syarat.
Untuk gambaran menyeluruh soal posisi Scopus di antara basis data lain, termasuk yang beroperasi di ranah nasional, kamu bisa membaca pembahasan tentang cara kerja indeksasi dan reputasi jurnal.
Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi milik Elsevier yang menyeleksi jurnal sebelum memasukkannya, bukan penerbit dan bukan nama sebuah jurnal. Dari data sitasi yang dikumpulkannya lahir metrik seperti CiteScore, SJR, SNIP, dan kuartil.
Dua hal yang paling penting diingat: status terindeks bisa dicabut sewaktu-waktu, dan untuk keperluan karier akademik, terindeks Scopus saja belum tentu memenuhi definisi jurnal internasional bereputasi yang dipakai dalam aturan.