Salah satu kebingungan paling umum di antara penulis pemula saat menulis artikel jurnal ilmiah adalah membedakan hasil dan pembahasan. Cara menulis hasil dan pembahasan yang tepat justru bertumpu pada satu prinsip sederhana: pisahkan fakta dari interpretasi, meski keduanya saling berkaitan erat.
Table of Contents
TogglePrinsip ini terdengar sederhana, tapi penerapannya sering meleset di draft pertama karena penulis secara alami ingin langsung menjelaskan makna begitu menyampaikan sebuah angka. Berikut perbedaan mendasarnya:
Cara sederhana mengecek apakah kamu sudah memisahkan keduanya dengan benar adalah bertanya pada tiap kalimat: apakah ini melaporkan apa yang ditemukan, atau menjelaskan kenapa temuan itu penting? Kalimat pertama masuk Results, kalimat kedua masuk Discussion. Kebiasaan mengecek ini kalimat per kalimat sangat membantu menjaga kejernihan alur naskahmu, terutama di draft-draft awal sebelum kamu terbiasa memisahkannya secara otomatis.
Setelah data tersaji rapi di Results, Discussion bertugas menghidupkan makna di baliknya. Tiga langkah berikut membantu menyusun pembahasan yang benar-benar bermakna, bukan cuma mengulang angka yang sudah disebutkan:
Ketiga langkah ini idealnya dikerjakan untuk tiap temuan utama, bukan digabung jadi satu paragraf besar di akhir. Pembahasan yang terstruktur per temuan biasanya lebih mudah diikuti pembaca dibanding pembahasan yang melompat-lompat antar topik tanpa alur yang jelas.
Program pendampingan publikasi jurnal ilmiah resmi terakreditasi SINTA 1, 2, 3, dan 4. Naskah ditangani mulai dari perapian bahasa sampai terbit.
Yang Anda dapatkan:
Cocok untuk persyaratan BKD, jabfung, kepangkatan, sidang yudisium, kelulusan S1 dan S2, pendaftaran S2 dan S3, serta luaran hibah penelitian.
Berbagai rumpun ilmu diterima. Pelayanan fast respon.
Tidak semua penelitian menghasilkan temuan sesuai hipotesis awal, dan itu bukan masalah selama kamu menjelaskannya dengan jujur. Hasil yang tidak signifikan atau bahkan berlawanan dengan prediksi tetap punya nilai ilmiah, karena membantu komunitas akademik menghindari bias publikasi yang hanya melaporkan temuan positif.
Saat membahas temuan yang tidak sesuai prediksi, hindari kesan defensif atau seolah menutupi kelemahan. Jelaskan kemungkinan penyebabnya secara objektif, apakah karena keterbatasan sampel, variabel yang belum terkontrol, atau memang fenomena yang berbeda dari yang diperkirakan literatur sebelumnya, lalu sampaikan implikasinya bagi penelitian selanjutnya.
Beberapa jurnal, terutama di bidang ilmu sosial kualitatif, mengizinkan atau bahkan mengharuskan Results dan Discussion digabung dalam satu bagian. Kalau formatnya seperti ini, pastikan tetap ada pemisahan jelas antara paragraf yang melaporkan temuan dan paragraf yang menginterpretasikannya, meski berada dalam judul bagian yang sama.
Format gabungan ini sering dipakai untuk penelitian studi kasus atau etnografi, di mana narasi hasil dan interpretasinya memang sulit dipisahkan secara kaku. Kalau ragu format mana yang diharapkan jurnal tujuanmu, cek beberapa artikel yang sudah terbit di jurnal tersebut untuk melihat pola yang mereka pakai.
Kesalahan yang sering terjadi: mengulang data tabel secara berlebihan dalam narasi, memasukkan interpretasi ke dalam Results sehingga tercampur dengan fakta, dan pembahasan yang tidak terhubung kembali dengan pertanyaan atau hipotesis penelitian yang dirumuskan di awal.
Kesalahan lain yang cukup sering ditemukan adalah pembahasan yang terlalu defensif terhadap kritik yang belum tentu muncul, alih-alih fokus menjelaskan makna temuan secara langsung. Beberapa penulis juga lupa menghubungkan pembahasan dengan tinjauan pustaka yang sudah disusun di awal, padahal keterkaitan ini yang menunjukkan kontribusi penelitianmu terhadap bidang keilmuan secara keseluruhan.
Memisahkan fakta dari interpretasi adalah kunci menulis hasil dan pembahasan yang jelas. Sajikan data secara objektif di Results, lalu bangun makna dan implikasinya secara jujur di Discussion, termasuk mengakui keterbatasan penelitian dan menjelaskan temuan yang meleset dari prediksi awal.