Salah satu penyebab naskah bolak-balik direvisi bahkan sebelum dinilai substansinya adalah format yang tidak sesuai. Karena itu, memahami cara mencari template jurnal resmi, baik untuk jurnal SINTA maupun Scopus, sebaiknya jadi langkah awal sebelum kamu menulis satu paragraf pun dalam format final.
Table of Contents
ToggleSetiap jurnal punya ketentuan formatnya sendiri: struktur bagian, gaya sitasi, format tabel dan gambar, sampai batas jumlah kata. Memakai template jurnal lain yang “kelihatannya mirip” hampir selalu berakhir dengan pengembalian naskah untuk perbaikan format, membuang waktu berminggu-minggu untuk hal yang sebenarnya bisa selesai sejak awal. Editor juga menilai kepatuhan format sebagai sinyal keseriusan penulis.
Cari nama jurnal di portal resmi SINTA (sinta.kemdiktisaintek.go.id), buka profilnya, lalu klik tautan menuju website resmi jurnal tersebut. Jalur ini sekaligus memastikan kamu masuk ke website jurnal yang asli, bukan situs tiruan yang kadang dibuat menyerupai jurnal bereputasi.
Di website jurnal berbasis OJS, template biasanya berada di menu “Author Guidelines”, “Panduan Penulis”, atau bagian “Submissions”. Sebagian jurnal menaruh tautan unduhan template Word langsung di sidebar beranda dengan label seperti “Template” atau “Article Template”.
Jurnal sesekali memperbarui templatenya. Kalau tersedia beberapa file, pakai yang terbaru atau yang dirujuk eksplisit di author guidelines, dan bandingkan dengan artikel terbitan terkini untuk memastikan formatnya memang masih dipakai.
Jurnal internasional terindeks Scopus umumnya menaruh ketentuan format di halaman “Guide for Authors”, “Instructions for Authors”, atau “Submission Guidelines” di website resminya atau di portal penerbitnya. Sebagian penerbit besar tidak menyediakan file template khusus, melainkan daftar ketentuan format yang harus kamu terapkan sendiri.
Beberapa penerbit menyediakan template Word atau LaTeX yang bisa diunduh dari halaman panduan penulisnya. Pastikan template yang kamu pakai memang untuk jurnal spesifik tujuanmu, karena satu penerbit bisa punya format berbeda antar jurnalnya.
Sebelum repot menyesuaikan format, pastikan jurnal tujuanmu benar-benar terindeks Scopus lewat sumber resmi seperti Scopus Sources List atau Scimago. Menyesuaikan naskah ke template jurnal yang ternyata predator adalah kerugian ganda: waktu terbuang dan naskah berisiko.
Cara paling aman adalah menulis atau menyalin naskahmu langsung ke dalam file template, bagian demi bagian, sambil mempertahankan style bawaannya, bukan mengubah-ubah format dokumen lamamu supaya “terlihat seperti” template. Perhatikan detail yang sering luput: gaya sitasi (APA, IEEE, atau lainnya beserta edisinya), format penomoran heading, penempatan judul tabel dan gambar, serta ketentuan identitas penulis untuk blind review. Setelah naskah rapi dalam template, kamu siap masuk ke tahap pengiriman lewat panduan submit artikel lewat OJS.
Begitu tahu gaya sitasi yang diminta template, langsung atur gaya yang sama di Mendeley atau Zotero sebelum mulai menyisipkan kutipan. Dengan begitu, sitasi dan daftar pustaka terbentuk otomatis dalam format yang benar sejak awal, bukan dirapikan manual belakangan yang rawan terlewat. Kalau nanti kamu pindah target jurnal dengan gaya sitasi berbeda, cukup ganti pengaturan gayanya dan seluruh sitasi menyesuaikan sendiri.
Yang paling sering terjadi: memakai template jurnal lain karena malas mencari yang resmi, menimpa style template dengan format sendiri sehingga strukturnya rusak, mengabaikan gaya sitasi yang diminta karena sudah terlanjur pakai gaya lain, dan lupa menghapus teks petunjuk bawaan template dari naskah final. Ada juga yang mengunduh “template” dari situs pihak ketiga yang tidak resmi; selalu ambil dari website jurnal langsung.
Template resmi selalu bersumber dari website jurnal itu sendiri: lewat profil SINTA untuk jurnal nasional, atau halaman guide for authors untuk jurnal internasional. Temukan, terapkan dengan disiplin sejak draf awal, dan naskahmu akan melewati screening format tanpa hambatan yang tidak perlu.